Blog Archives

Maaf

Sesal lara dalam fana
Menghias jiwa indah penuh makna
Tegar tanpa terasa
Menghias sesak dalam hasrat dan angan
Raga tersiksa
Menggigil dalam dera batin tersiksa
Semua tercipta dalam satu getar jiwa
Bermuara pada satu kata
Maaf…

Toelisan

Malam…
Tolong redupkan cahaya nya dalam hatiku.
gelapkan gundah dan resah dalam jiwa.

Sepi…
Tolong buai rindu yang resah dalam kalbu.
Biarkanlah ia tetap dalam lamunan dalam gelap asa.

Dingin…
Tolong bekukan rindu yang selalu hadir dalam mimpi.
Bekukanlah ia dalam sudut sepi.

Tuhan…
Beri aku setangkai asa tuk mampu pendam asa tersisa

Bahtera Cinta

Cinta
Datang mewangi dalam sebuah nama
Mengakar menembus kalbu
Dan itu adalah namamu

Kau dan aku melebur menjadi satu
Menderu menjadi jiwa baru
Lengkapi bahtera cinta
Atas ridho sang maha cinta

Schizophrenia

Schizophrenia merupakan penyakit otak yang timbul akibat ketidakseimbangan pada dopamin, yaitu salah satu sel kimia dalam otak. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antar pribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra).
Schizophrenia sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu schizein dan phren. Schizen artinya untuk memecah, sedangkan phren artinya pikiran. Istilah ini diciptakan oleh Eugen Bleuler pada tahun 1908.
Beberapa peneliti percaya Schizophrenia adalah kekacauan tunggal, sedangkan yang lainnya percaya hal ini adalah sindrom (koleksi gejala) dari banyak sumber penyakit. Jenis Schizophrenia didasarkan pengelompokan pasien dengan gejala yang sama. Tetapi pada penderita secara individu, jenisnya akan berubah dengan berjalannya waktu.
*Schizophrenia paranoid ditandai dengan keasyikan dengan khayalan atau halusinasi pendengaran; berbicara ngawur dan emosi yang aneh menonjol.
Read the rest of this entry

Sunyi

Dalam sepi kusendiri
Termenung dalam sunyi
Menerobos dinginya udara malam

Aku lumpuh dalam sunyi
Tersungkur diatas tanah
Bersama luapan getaran jiwa yang memanggil namamu

Sebuah nama yang telah menjadi kenangan
Pergi bersama hembusan angin malam

 

weak

Begitu banyak rasa berkecamuk dalam diri, semuanya menjadi satu dalam benak. Imajiku melayang menembus semua ruang dan celah dalam pikiran. tatapanku kosong menatap tanpa arah. Semua itu kunikmati dengan sadarku.
aku ingin keluar dari semua ini” kalimat itu selalu terngiang-ngiang dalam diri. tetapi itu tak cukup kuat untuk melawan. Jiwa ini masih terlena dalam sebuah pencarian. Diri ini telah terjejali dengan semua itu, hingga tak kuasa diri ini untuk melawannya.
Entah bagaimana semua itu bisa terjadi dalam perjalanan hidup. “apakah ini adalah sebuah pilihan-pilihan kehidupan yang memang harus ada dalam kehidupan ?”
Aku mencoba bangkit dengan mencoba menikmatinya sambil menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Aku sadar hitungan masa sudah mencapai seperempat perjalanan. Dan itu semua terasa cepat hingga rasa, raga, harapan dan kenyataan itu seakan baru dimulai. Semuanya hilang tercecer dalam rimba belantara asa. Hingga sulit rasanya tuk menemukanya kembali.
Aku terhempas pada sebuah ketidakberdayaan yang membuatku tak kuasa menyelaminya. Perih rasanya…………
Tetapi walaupun menyisakan ngilu yang menghujam hebat di dada. Aku akan tetap tegar menggapainya meski dengan sisa tenaga yang ada hingga nafas ini tak lagi berhembus. 

kehilangan

raga ini rapuh
ketika jiwa itu pergi
gelap menghampiri
ketika cahaya itu pergi

semuanya hilang
bersama dengan kepergiannya
sementara aku disini sendiri
mencoba belajar tanpanya

Show Must Go On

Musim terus berganti
Waktu pun terus berjalan
Tetapi mengapa kabut itu masih terus menggelayut
Seolah enggan untuk pergi

Entah…….
Itulah satu kata yang terbersit
Sebuah kata yang diselimuti dengan kepasrahan
Layaknya perahu nelayan yang terombang-ambing oleh ombak ganas di lautan

Namun……..
Waktu terus berjalan
Dan mentari masih bersinar dengan terangnya
Menyinari dan memberikan kehangatan pada kehidupan

Show must go on
Kalimat itulah yang terukir dalam diri
Penopang graha harapan
Bagi jiwa yang retak