Keraton Sumenep

Jalan-jalan ke pulau Madura tak lengkap rasanya apabila tidak mengunjungi Keraton Sumenep. Tempat ini dulunya adalah tempat kediaman resmi Raja dan Permaisurinya serta para Adipati. Keraton Sumenep ini adalah bukti dari sebuah eksistensi dari Kerajaan Sumenep yang kini tak lagi eksis. Namun bagi masyarakat sumenep, Keraton Sumenep tidak hanya sekedar bangunan bersejarah semata, tetapi Keraton Sumenep masih dianggap memiliki wibawa dari sisi nilai filosofi, mitologi dan budaya.
Keraton Sumenep di atas tanah pribadi milik Panembahan Somala penguasa Sumenep XXXI. Dibangun Pada tahun 1781 dengan arsitek pembangunan adalah Lauw Piango, seorang warga keturunan Tionghoa. Karaton Panembahan Somala dibangun di sebelah timur karaton milik Gusti R. Ayu Rasmana Tirtonegoro dan Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro (Bindara Saod). Bangunan Kompleks Keraton tidak dibangun secara bersamaan namun di bangun dan diperluas secara bertahap oleh para keturunannya. Secara umum gaya arsitektur Keraton Sumenep merupakan perpaduan antara gaya arsitektur Eropa, Arab, dan China.

Dalam Kawasan Komplek Keraton Sumenep terdiri dari bangunan induk keraton, taman pemandian dan ladang museum yang dulu bangunan tersebut memiliki fungsi tersendiri. Bagian pertama adalah sebelah kanan dari bangunan induk keraton sumenep, Yaitu tempat menyimpan duplikat kereta kencana kerajaan Sumenep dan kereta kuda pemberian ratu Inggris. Kereta asli kerajaan tersebut sampai sekarang masih dipergunakan saat upacara peringatan hari jadi kota Sumenep dan di simpan di Museum Sumenep yang berada tepat di depan Keraton Sumenep. Selain itu dalam ruangan tersebut tersimpan alat-alat untuk upacara mitoni atau upacara tujuh bulan kehamilan keluarga raja. Ada juga senjata-senjata kuno, beragam guci dan keramik dari Tiongkok. Ada pula arca, baju kebesaran sultan dan putri Sumenep, serta kamar tidur raja Sumenep yang tidak boleh dimasuki oleh pengunjung. Tersimpan pula fosil ikan paus yang terdampar di Pantai Sumenep tahun 1977. Di museum ini Anda juga dapat juga melihat Alquran yang ditulis oleh Sultan Abdurrachman. Di ada sebuah piring diyakini memiliki keistimewaan, dimana nasi yang dihidangkan di atasnya tidak basi meskipun sudah beberapa hari. Piring ini berbentuk oval dengan gambar Raja Sampang Condronegoro (1830) hadiah bagi raja Sumenep ke-32, Sultan Abdurrahman Pakunataningrat (1811-1854). Berjalan kearah belakang, terdapat museum Bindara Saod karena dahulu merupakan tempat Bindara Saod menyepi.
Di dalam bangunan induk keraton terdapat Pendopo Agung, Kantor Koneng, dan bekas Keraton Raden Ayu Tirto Negoro yang saat ini dijadikan tempat penyimpanan benda-benda kuno. Pendopo Agung sampai saat ini masih difungsikan sebagai tempat diadakan acara pemerintahan.
Keraton ini juga tersedia pemandian untuk para putri. Pemandian tersebut disebut dengan Pemandian Putri Taman Sare. Pemandian tersebut terdapat tiga buah pintu, semacam jalan menurun ke bawah menuju pemandian, yang jaraknya saling berdekatan. Pintu air pertama dipercaya bisa membuat awet muda dan mendekatkan jodoh. Pintu air kedua dipercaya bisa meningkatkan karisma dan kepangkatan. Sedangkan Pintu air yang ketiga untuk membantu meningkatkan iman dan ketaqwaan.

 

Advertisements

Posted on 17/09/2017, in Fitur Artefak and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: