Psikoanalisa Dalam Dinamika Kepribadian

Psikoanalisa adalah sebuah istilah yang diciptakan oleh Sigmund Freud pertama kali pada tahun 1896. Psikoanalisa merupakan sebuah pandangan baru tentang manusia pada abad 20-an, dimana ketidaksadaran memankan peran sentral. Secara skematis Sigmund freud menggambarkan jiwa sebagai gunung es dimana bagian yang muncul di permukaan air merupakan bagian terkecil yaitu puncak gunung es yang dalam hal kejiwaan adalah bagian kesadaran (conciousness), agak di bawah permukaan adalah bagian pra kesadaran (sub conciousness) dan bagian terbesar terletak di dasar air yang dalam hal kejiwaan merupakan alam ketidaksadaran (unconsciousness).

(Concious
ness)

Tingkat kesadaran yang berisi semua hal yang kita cermati pada saat tertentu. Menurut Freud, hanya sebagian kecil saja dari kehidupan mental (fikiran, persepsi, perasaan dan ingatan) yang masuk ke tingkat kesadaran (consciousness). Isi daerah sadar itu merupakan hasil proses penyaringan yang diatur oleh stimulus. Isi-isi kesadaran itu hanya bertahan dalam waktu yang singkat di daerah consciousness, dan segera tertekan ke daerah sub conciousness atau unconsciousness, begitu orang memindah perhatiannya ke we yang lain.

(Sub consciousness)

Disebut juga ingatan siap, yakni tingkat kesadaran yang menjadi jembatan antara sadar dan tak sadar. Pengalaman yang ditinggal oleh perhatian, semula disadari tetapi kemudian tidak lagi dicermati, akan ditekan pindah ke daerah pra sadar. Di sisi lain, isi-materi daerah tak sadar dapat muncul ke daerah pra sadar. Kalau sensor sadar menangkap bahaya yang bisa timbul akibat kemunculan materi tak sadar, materi itu akan ditekan kembali ke ketidaksadaran. Materi tak sadar yang sudah berada di daerah pra sadar itu bisa muncul kesadaran dalam bentuk simbolik, seperti mimpi, lamunan, salah ucap, dan mekanisme pertahanan diri.

(Unconsciousness)

Pada bagian ini adalah bagian yang paling dalam dari struktur kesadaran dan menurut Freud merupakan bagian terpenting dari jiwa manusia. Secara khusus Freud membuktikan bahwa ketidaksadaran bukanlah abstraksi hipotetik tetapi itu adalah kenyataan empirik. Ketidaksadaran itu berisi insting, impuls dan drives yang dibawa dari lahir, dan pengalaman-pengalaman traumatik (biasanya pada masa anak-anak) yang ditekan oleh kesadaran dipindah ke daerah tak sadar. Isi atau materi ketidaksadaran itu memiliki kecenderungan kuat untuk bertahan terus dalam ketidaksadaran, pengaruhnya dalam mengatur tingkah laku sangat kuat namun tetap tidak disadari.

Untuk mempelajari dan memahami sistem kepribadian manusia, Freud berusaha mengembangkan model kepribadian yang saling berhubungan dan menimbulkan ketegangan antara satu dengan yang lainnya. Hingga pada akhirnya Freud memperkenalkan tiga komponen struktural dalam sistem kepribadian, yaitu : id (aspek biologis), ego (aspek psikologis) dan superego (aspek sosiologis).

Id (Das Es)

Id adalah struktur tentang kepribadian yag terdiri dari naluri, yang merupakan sumber psikis seseorang. Dalam pandangan Freud, Id sepenuhnya tidak disadari. Id tidak mempunyai hubungan dengan realitas. Id adalah sistem kepribadian yang asli, dibawa sejak lahir. Dari id ini kemudian akan muncul ego dan super ego. Saat dilahirkan, id berisi semua aspek psikologik yang diturunkan, seperti insting, impuls dan drives. Id mewakili subjektivitas yang tidak pernah disadari sepanjang usia. Id berhubungan erat dengan proses fisik untuk mendapatkan energi psikis yang digunakan untuk mengoperasikan sistem dari struktur kepribadian lainnya.
Id beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan, yaitu berusaha memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Bagi Id, kenikmatan adalah keadaan yang relatif inaktif atau tingkat energi yang rendah, dan rasa sakit adalah tegangan atau peningkatan energi yang mendambakan kepuasan. Jadi ketika ada stimuli yang memicu energi untuk bekerja, muncul tegangan energi hingga akhirnya id beroperasi dengan prinsip kenikmatan berusaha mengurangi atau menghilangkan tegangan itu dan mengembalikan id ke tingkat energi yang rendah. Prinsip kenikmatan  diproses dengan dua Cara, tindak refleks dan proses primer. Tindak refleks adalah reaksi otomatis yang dibawa sejak lahir seperti mengejapkan mata. Hal ini dipakai untuk menangani pemuasan rangsang sederhana dan biasanya segera dapat dilakukan. Proses primer adalah reaksi membayangkan/mengkhayal sesuatu yang dapat mengurangi atau menghilangkan tegangan. Hal ini dipakai untuk menangani stimulus kompleks, seperti bayi yang lapar membayangkan makanan atau puting ibunya. Proses membentuk gambaran objek yang dapat mengurangi tegangan, disebut pemenuhan hasrat, misalnya mimpi, lamunan, dan halusinasi psikotik.

Ego (Das Ich)

Ego adalah struktur kepribadian yang berfungsi menghadapi tuntutan realitas. Ego disebut sebagai ”cabang eksekutif” dari kepribadian, karena ego membuat keputusan rasional. Namun sama halnya dengan Id, Ego pun tidak memiliki moralitas. Keduanyatidak mempertimbangkan apakah yang diputuskan itu benar atau salah. Ego berkembang dari id agar orang mampu menangani realita; sehingga ego beroperasi mengikuti prinsip realita. Prinsip realita itu dikerjakan melalui proses sekunder, yakni berfikir realistik menyusun rencana dan menguji apakah rencana itu menghasilkan objek yang dimaksud. Proses pengujian itu disebut uji realita yaitu melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana yang telah difikirkan secara realistik. Dari cara kerjanya dapat difahami sebagian besar daerah operasi ego berada di kesadaran, namun ada sebagian kecil ego beroperasi di daerah pra sadar dan daerah tak sadar.
Ego sebagai cabang eksekutif dari kepribadian, memiliki dua tugas utama; pertama, memilih stimuli mana yang hendak direspon dan atau insting mana yang akan dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan. Kedua, menentukan kapan dan bagaimana kebutuhan itu dipuaskan sesuai dengan tersedianya peluang yang resikonya minimal. Dengan kata lain, ego sebagai eksekutif kepribadian berusaha memenuhi kebutuhan Id sekaligus juga memenuhi kebutuhan moral dan kebutuhan berkembang-mencapai-kesempurnaan dan superego. Ego sesungguhnya bekerja untuk memuaskan Id, karena itu ego yang tidak memiliki energi sendiri akan memperoleh energi dari Id.

SuperEgo (Das Ueber Ich)

SuperEgo adalah struktur kepribadian yang berfungsi menghadapi tuntutan moral dari kepribadian. SuperEgo akan mempertimbangkan apakah keputusan itu benar atau salah. Super ego dapat kita sebut sebagai “hati nurani”. SuperEgo adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang beroperasi memakai prinsip idealistik sebagai lawan dari prinsip kepuasan Id dan prinsip realistik dari Ego. SuperEgo berkembang dari ego, dan seperti ego dia tidak mempunyai energi sendiri. Sama dengan ego, superEgo beroperasi di tiga daerah kesadaran. Namun berbeda dengan ego, dia tidak mempunyai kontak dengan dunia luar (sama dengan Id) sehingga kebutuhan kesempurnaan yang diperjuangkannya tidak realistik (Id tidak realistik dalam memperjuangkan kenikmatan).
Prinsip idealistik mempunyai dua sub prinsip, yakni conscience dan ego-ideal. SuperEgo bersifat non rasional dalam menuntut kesempurnaan, menghukum dengan keras kesalahan ego, baik yang telah dilakukan maupun baru dalam fikiran. SuperEgo juga seperti ego dalam hal mengontrol id, bukan hanya menunda pemuasan tetapi merintangi pemenuhannya. Paling tidak, ada 3 fungsi SuperEgo, pertama mendorong ego menggantikan tujuan-tujuan realistik dengan tujuan-tujuan moralistik, kedua merintangi impuls id, terutama impuls seksual dan agresif yang bertentangan dengan standar nilai masyarakat, ketiga mengejar kesempurnaan.
Struktur kepribadian id-ego-superego itu bukan bagian-bagian yang menjalankan kepribadian, tetapi itu adalah nama dalam sistem struktur dan proses psikologik yang mengikuti prinsip-prinsip tertentu. Biasanya sistem-sistem itu bekerja bersama sebagai team, di bawah arahan ego. Baru kalau timbul konflik diantara ketiga struktur itu, mungkin sekali muncul tingkah laku abnormal.

Referensi :
Hall, Calvin., & Gardner Lindzey. (1993). Teori-Teori Psikodinamik (klinis)
Salkind, Neil J. (2004). An Introduction to Theories of Human Development
Paulus Budiraharja. (1997). Mengenal Teori Kepribadian Mutakhir
Irwanto. (1989).  Psikologi Umum
Singgih Dirgagunarsa. (1978).  Pengantar Psikologi

Advertisements

Posted on 19/06/2015, in Psikologi and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: