Latah (Hyperstartle Syndrome)

Latah atau Hyperstartle Syndrome (Hyperekplexia) adalah ucapan atau perbuatan yang terungkap secara tak terkendali setelah terjadinya reaksi kaget (starled reaction). Pada saat latah muncul yang berkuasa adalah alam bawah sadar (subconcious). Hingga saat ini latah masih menjadi sebuah perdebatan antara psikolog dengan anthropolog.
Para psikolog berpendapat bahwa latah ini merupakan sebuah sindrom perilaku. Menurut mereka latah ini pada dasarnya adalah fenomena automatisme. Automatisme adalah gerakan tak sadar yang berulang-ulang, seperti membenturkan bibir atas dengan bawah, mengunyah atau menelan. Aturomatisme juga muncul dalam beberapa tipe epilepsi. Sehingga dapat dikatakan latah ini dapat sebagai sebuah  dimensi gangguan fungsi pusat syaraf dan psikologis.
Sementara itu para anthropolog berpendapat bahwa latah adalah sebuah perilaku yang oleh Robert L Winzeler disebut sebagai Culture Bound Syndrome. Hal ini beralasan karena berdasarkan literatur yang ada diketahui bahwa latah ini hanya ditemukan pada penduduk Asia, terutama penduduk Asia Tenggara. Artinya adalah latah ini hanya terjadi pada kebudayaan tertentu. Dan yang unik adalah negara dengan banyak kasus latah yang teridentifikasi adalah Malaysia dan Indonesia. Dalam penelitiannya P.M. Yap mengemukakan bahwa, orang latah memiliki ciri-ciri kepribadian yang belum berkembang, naif atau lemah. Secara patodinamis ia dicirikan oleh disintegrasi batasan ego dengan gangguan volisi dan perhatian. Faktor kebiasaan, rasa takut, gelitikan, usia dan histeria adalah faktor yang berpengaruh terhadap kelatahan seseorang. Ciri yang tidak diragukan lagi dari semua fenomena latah adalah bahwa kebudayaan yang memiliki fenomena ini memiliki perkembangan teknologi yang rendah dan belum menemukan atau mengembangkan teknik menguasai lingkungan alami mereka seperti yang dimiliki negara maju. Dengan kata lain, latah hanya mungkin terjadi di negara berkembang atau miskin.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa Latah adalah ucapan atau perbuatan yang terungkap secara tak terkendali setelah terjadinya reaksi kaget. Maka berdasarkan hal tersebut latah dapat dibedakan menjadi beberapa macam, antara lain :
Echolalia. 
Echo berarti pengulangan. Pada penderita latah jenis ini akan secara spontan mengulangi perkataan orang lain.
Echopraxia.
Penderita latah akan meniru gerakan orang lain.
Caprolalia.
Mereka yang menderita latah jenis ini akan mengucapkan kata-kata yang dianggap tabu ataupun kotor. Biasanya kata-kata mereka tidak akan jauh dari alat kelamin, walaupun dapat juga diplesetkan menjadi kata-kata lain.
Automatic Obedience.
Ini adalah latah yang paling parah. Pada saat mereka terkejut, mereka akan secara spontan dan tidak sadar melaksanakan perintah.
Pada dasarnya yang menjadi pemicu utama latah adalah kecemasan atau tertekan gara-gara stres. Namun demikian ada beberapa teori yang mengemukakan penyebab dari timbulnya gangguan latah ini, yaitu :
Teori Pemberontakan. Dalam kondisi latah, seseorang bisa mengucapkan hal-hal yang dilarang tanpa merasa bersalah. Gejala ini semacam gangguan tingkah laku. Lebih kearah obsesif karena ada dorongan yang tidak terkendali untuk mengatakan atau melakukan sesuatu.
Teori Kecemasan. Gejala latah muncul karena yang bersangkutan memiliki kecemasan terhadap sesuatu tanpa ia sadari. Rata-rata, dalam kehidupan pengidap latah selalu terdapat tokoh otoriter, entah ayah atau ibu. Bisa jadi, latah merupakan jalan pemberontakannya terhadap dominan orang tua yang sangat menekan. Walau demikian tokoh otoriter tidak harus berasal dari lingkungan keluarga.
Teori Pengondisian. Inilah yang disebut latah gara-gara ketularan. Seseorang mengidap latah karena dikondisikan oleh lingkungannya, misalnya gara-gara latah, seseorang merasa diperhatikan dan diperhatikan oleh lingkungan. Dengan begitu, latah juga merupakan upaya mencari perhatian. Latah semacam ini disebut “latah gaul”.
Walau telah menjadi sebuah fenomena, latah ini disadari atau tidak lambat laun akan memberikan dampak negatif, diantaranya :
> Mengekang Kreatifitas. Karena kita sudah terbiasa untuk meniru orang lain, berbuat seperti orang lain bertingkah laku. akhirnya kita kehilangan daya untuk “mencipta” hal-hal yang baru, yang lebih segar dan kita akan mapan dengan kejumudan. “be a leader dont be a follower”
> Mengikis keberagaman. Jangan harap menemukan hal-hal “baru” jika budaya ini terlanjur menjadi akut. semua orang akan memilih untuk seragam ketimbang bersusah payah membuat hal yang sama sekali lain. Bisa-bisa slogan kita akan berubah dari “walaupun berbeda namun tetap satu jua” menjadi “walaupun satu asalkan berbeda-beda”.
> Membuat komunikasi dan tingkah laku kelihatan kurang etis.
> Jika terjadi pada anak, akan menjadi ajang cemoohan bagi teman-temannya, sehingga anak akan menarik diri dari pergaulan sosialnya atau minder.
Ada beberapa tindakan yang dapat diaplikasikan kepada para penderita latah sehingga mereka dapat lepas dari sindrom latah ini, tindakan-tindakan tersebut adalah :
Hipnoterapi. 
Dalam hipnoterapi kita bisa langsung menjangkau sumber kebiasaan latah, yaitu pikiran bawah sadar. Dengan demikian kita bisa merubah perilaku kebiasaan latah yang tertanam di pikiran bawah sadar. Selain itu, dengan hipnoterapi penderita latah diberi sugesti agar tetap tenang ketika mengalami peristiwa yang mengagetkan.
Pendekatan Diri dan Lingkungan.
Memang menghilangkan kebiasaan latah tidaklah mudah. Namun cara-cara berikut ini bisa dilakukan untuk menyembuhkan :
~ Calm !. Pada dasarnya orang yang mudah latah itu gampang banget panik dan kaget. Biasakan diri untuk bisa bersikap tenang saat terjadi situasi-situasi yang menegangkan. Nah, ketika kaget, cobalah untuk tetap tenang. Caranya? Tarik napas panjang atau nyanyikan lagu-lagu yang menyenangkan.
~ Making rule of game. Janji pada diri sendiri untuk tidak latah saat sedang kaget, antara lain dengan menghukum diri sendiri setiap kali latah.
~ Help me, Guys !. Teman-teman mungkin nggak sadar betapa lelahnya menjadi seorang yang latah. Panik berlebihan, selalu terkaget-kaget, dan akhirnya sering jadi bahan olokan. Nah, kalau teman-teman mau sedikit menahan diri agar tidak mengejek atau mengerjai kita yang latah, maka usaha untuk sembuh dari latah pasti bisa berhasil.
Terapi Behavioristik. 
Terapi tingkah laku adalah penerapan aneka ragam teknik dan prosedur yang berakar pada berbagai teori tentang belajar. Terapi ini menyertakan penerapan yang sistematis prinsip-prinsip belajar pada pengubahan tingkah laku kearah cara-cara yang lebih adaptaif. Pendekatan ini, telah memberikan sumbangan-sumbangan yang berarti, baik pada bidang-bidang klinis maupun pendidikan.
Behavioristik adalah suatu pandangan ilmiah tentang tingkah laku manusia. Dalil dasarnya adalah bahwa tingkahlaku itu tertib dan bahwa eksperimen yang dikendalikan dengan cermat akan menyingkap hukum-hukum yang mengendalikan tingkah laku. Behavioristik ditandai oleh sikap membatasi metode-metode dan prosedur-prosedur pada data yang dapat diamati.
Pendekatan behavioristik tidak menguraikan asumsi-asumsi filosofis tertentu tentang manusia secara langsung. Setiap orang dipandang memiliki kecenderungan-kederungan positif dan negatif yang sama. Manusia pada dasarnya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan social budayanya. Segenap tingkah laku manusia dipelajari. Meskipun berkeyakinan bahwa segenap tingkah laku pada dasarnya merupakan hasil dari kekuatan-kekuatan lingkungan dan factor-faktor genetic, para behavioris pembuatan putusan sebagai salah satu bentuk tingkah laku. Pandangan para behavioris tentang manusia sering kali didistorsi oleh penguraian yang terlampau menyederhanakan tentang individu sebagai bidak nasib yang tak berdaya yang semata-mata ditentukan oleh pengaruh-pengaruh lingkungan dan keturunan dan dikerdilkan menjadi sekedar organisme pemberi respon. Terapi tingkah laku kontemporer bukanlah suatu pendekatan yang sepenuhnya deterministic dan mekanistik, yang meyingkirkan potensi para klien untuk memilih. Hanya “para behavioris radikal” yang menyingkirkan kemungkinan menentukan diri dari individu.
Terapi Puasa. 
Terapi puasa ini adalah merupakan hasil riset terakhir yang membuktikan bahwa puasa yang dijalankan secata tepat dan benar, bisa berfungsi sebagai terapi bagi penderita latah. Ini bersumber kepada fakta bakti bahwa puasa dapat membuat seseorang lebih mampu menguasai dan mengendalikan diri.

Referensi :
Yap, P.M. 1952. The Latah Reaction: Its Pathodynamics and Nosological Position. Journal of Mental Science. XCVIII, 1952.
Winzeler, Robert L. Latah in Southeast Asia: The History and Ethnography of a Culture-bound Syndrome, Cambridge University Press, 1995.
Corey, Gerald. Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi.Bandung, Refika Aditama, 2007.
( http://id.wikipedia.org )

Advertisements

Posted on 23/12/2011, in Dunia Kesehatan and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: