Hukum Islam Menunda/Mencegah Kehamilan

Dewasa ini, menunda kehamilan dalam sebuah hubungan pernikahan sudah umum dilakukan dengan berbagai macam alasan. Namun, bagaimanakah Islam memandang tentang mencegah/menunda kehamilan ini.
Dalam Islam istilah mencegah kehamilan itu dinamakan ‘Azl. Kata ‘Azl secara etimologi adalah seorang laki-laki yang menumpahkan spermanya dari sang istri pada saat menyetubuhinya dengan tujuan agar si istrinya tidak hamil. Sedangkan secara terminologi ‘Azl adalah seorang laki-laki yang mencabut penisnya dari vagina perempuan sesaat sebelum terjadinya ejakulasi, atau seseorang laki-laki yang pada saat berhubungan suami istri menggunakan alat agar spermanya tidak masuk ke rahim perempuan, atau bisa juga diartikan seseorang perempuan yang menggunakan alat agar bisa menghalangi sperma laki-laki masuk ke rahim perempuan itu dengan tujuan supaya tidak terjadi kehamilan.
Ketika bebicara mengenai menunda kehamilan dari sudut pandang Islam, masih terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama. Ada ulama yang berpendapat bahwa menunda kehamilan itu dilarang tetapi ada juga ulama yang berpendapat bahwa menunda kehamilan itu diperbolehkan.
Ulama yang berpendapat menunda kehamilan itu dilarang, masih terbagi menjadi dua kelompok.
Pertama, menunda kehamilan itu hukumnya makruh. Hal ini didasarkan atas riwayat yang datang dari Umar bin Khattab, Ibn Umar dan Ibn Mas’ud ra. Alasan menunda kehamilan itu makruh adalah ‘Azl akan membatasi keturunan dan memotong kelezatan bersenggama bagi perempuan. Namun hukum ini bisa menjadi tidak makruh apabila :
Berada di Negara dalam keadaan perang sehingga butuh hubungan biologis tanpa mendatangkan anak
Istrinya seorang budak, takut anaknya menjadi budak
Laki-laki yang punya budak, ia ingin menggaulinya dan menjualnya.
Kedua, menunda kehamilan hukumnya haram. Haram disini untuk seluruh kondisi, baik perempuan merdeka atau budak, baik dengan izinnya atau tidak. Hal ini didasarkan beberapa dalil, diantaranya hadist ‘Aisyah ra : Mereka (para sahabat) bertanya kepada Nabi SAW tentang ’azl. Rasulullah SAW menjawab : ‘Azl adalah pembunuhan tersembunyi dan membaca “Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya. Karena dosa apakah dia dibunuh” (HR.Muslim). Atsar dari Ibn Umar, Dia membeli budak untuk anak laki-lakinya, Lalu bertanya : “kenapa saya tidak melihatnya hamil, kamu melakukan ‘azl terhadapnya ?. kalau saya tahu kamu melakukan hal itu, akan kupukul punggungmu!.”
Selanjutnya adalah ulama yang memperbolehkan menunda kehamilan. Sama seperti ulama yang melarang, ulama yang memperbolehkan menunda kehamilan juga terbagi menjadi dua, yaitu
Pertama, ulama yang membedakan antara budak dan merdeka. Wanita merdeka tidak boleh diperlakukan’azl kecuali dengan izinnya, karena bersenggama adalah bagian dari haknya. Ia bisa menuntut atau meminta untuk digauli. Dan kenikmatan bersenggama itu akan direguk kalau tidak dilakukan ‘azl. Dalam kitab “Al-Fath” Ibn Abn al-Bar mengatakan bahwa tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwa istri mereka tidak boleh di ‘azl kecuali dengan izinnya. Pendapat ini sependapat dengan Sa’id bin Jubair, ‘Atha dan Usamah bin Zaid.
Kedua, ulama yang tidak membedakan keduanya. Golongan ulama ini berpendapat tidak ada perbedaan antara wanita budak dengan wanita merdeka. Suami boleh melakukan ‘azl terhadap keduanya tanpa harus mendapat izinnya. Karena wanita tidak mempunyai hak dalam bersenggama.

Advertisements

Posted on 04/04/2010, in Tafakkara and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: