Pernikahan

Mendengar kata “nikah”, apa yang terlintas dalam benak kita. Semua orang pasti akan berbeda menanggapi kata “nikah” tersebut. Pada dasarnya pernikahan itu adalah sesuatu yang luhur dan sakral, bahkan pernikahan ini bermakna ibadah. Pernikahan itu sendiri bisa dianggap sebagai sebuah proses suci dimana pernikahan ini yang akan mengantarkan dua insan manusia yang berlainan jenis untuk menuju kesebuah gerbang yang dinamakan rumah tangga.
Tidak dapat kita pungkiri, bahwasanya pernikahan telah menjelma menjadi sebuah permasalahan umum sekarang ini, yang banyak dihadapi oleh setiap orang, baik anak muda maupun orang tua. Bagi anak muda pernikahan ini merupakan sebuah teka-teki yang harus dipecahkan oleh dirinya sendiri, apakah pernikahan tersebut adalah sebuah harapan akan suatu kebahagiaan ataupun juga sebuah kecemasan atau keragu-raguan yang harus dihadapi pada masa-masa yang akan datang. Sedangkan bagi orang tua, banyak orang tua yang gelisah karena anaknya sudah cukup umur, tetapi belum juga dapat menemukan jodohnya.
Dalam Islam, pernikahan adalah suatu hal yang dapat dikatakan sebagai suatu perbuatan yang di anjurkan oleh Allah SWT. Dan di anjurkan oleh Nabi SAW. Banyak ayat-ayat dalam Al-Quran yang menyuruh kita untuk melaksanakan pernikahan.
Diantaranya firman Allah SWT dalam surat an-nur ayat 32 :
Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (untuk kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.
Begitu pula sabda Nabi SAW kepada umatnya untuk melakukan pernikahan, seperti dalam hadist nabi yang diriwayatkan oleh Hakim dan Abu Daud
Sabda Rasululalah SAW :
Dari ‘Aisyah, kawinilah oleh kamu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu.
Namun demikian dalam menetapkan hukum pernikahan ini masih terdapat perbedaan diantara kalangan ulama. Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum pernikahan itu adalah sunnah. Sedangkan golongan ulama yang berbeda pendapat dengan jumhur ulama itu adalah golongan Zhahiriyah yang mengatakan hukum pernikahan bagi orang yang mampu melakukan hubungan kelamin dan biaya pernikahan adalah wajib atau fardhu. Dimana masing-masing pihak ini mempunyai alasan-alasan atau dasar yang bisa dipertanggungjawabkan

Advertisements

Posted on 17/12/2009, in Tafakkara and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: